Minggu, 04 Januari 2015

Kejutan

Pagi ini, hujan pun menetesi saat aku berjalan menuju sekolah. Hujan itu senantiasa sebagai butir semangat yang memandikanku pagi ini. Mulailah aku tersenyum menatap mendung pagi itu yang membuat serasa suram. Aku tetap melangkah dalam hujaman air yang membuatku basah kuyup. “Loe abis kecebur di sungai ya?” , ledek Rian. Aku hanya menjawab dengan senyuman. Rian memang orang yang ceplas-ceplos. Apalagi kalau ada temannya yang tidak dapat mengerjakan soal ulangan, ejeknya tidak akan berhenti semudah bis yang dapat kita hentikan dengan satu kata. Kata-katanya bagai belati tajam yang menusuk hati, tapi aku tlah biasa dengan hal itu. Aku langsung mencari tempat duduk, nomor 2 paling kanan. Kursi ini sudah disiapkan untukku. Walau mudah goyang, tapi kursi ini tetap jadi idolaku. Tempatnya Istimewa, dari sini aku bisa melihat gelak tawa canda teman-teman ku. Melihat wajah-wajah ceria. “Gak pindah, Sas?”, kata Mentari “Gak ahh, aku suka disini kok?” Tiba-tiba bel berbunyi, aku masih seperti biasa duduk tanpa adanya teman sebangku. Walau kadang Mentari ingin sebangku denganku, tapi dia selalu dilarang oleh Gina. Gina itu bosnya orang-orang popular di sekolah. Siapa sih yang tak kenal Gina? Anak cheers yang eksis dimana-mana. Cantik, Centil, dan Keren begitulah tampilannya. Tapi sifatnya yang sombong dan egois itu menjadi hal negatif yang tak harus ada. Makanya dia punya banyak musuh di sekolah. “Hei sas, liat tuh bapakmu udah datang, haha.” kata Rian sambil menunjuk kearah luar pintu. Yah, aku tahu, Rian pasti menunjuk kearah pak Geri, guru Biologi yang oleh teman-temanku menjulukki sebagai bapakku. Aku memang suka biologi, karena aku ingin jadi Dokter. “Selamat pagi anak-anak,” “Pagi pak,” Bel berdenting memberi tanda berakhirnya pelajaran hari ini, letih lelah seperti biasa. “Sasi sasi tungguin.” teriak seseorang dari belakang, ternyata Stela, anak kelas sebelah yang rumahnya searah denganku, kami selalu bersama, layaknya bulan dan bintang yang senantiasa berdampingan di gelapnya malam, menerangi bumi. “Iya la, aku nunggu kok.” Kami menuju halte menunggu bis yang datang, tiba-tiba Mentari yang biasanya dijemput, dia duduk bersama kami. Dia diam dan termenung, seperti penuh dengan hal yang disembunyikan. Mukanya tak seperti Mentari yang aku kenal, dan dia berkata, “Sas, loe gak capek?” , ujarnya sambil menawarkanku makanan ringan. “Capek kenapa ri?” “Capek karena di kelas kamu selalu sendiri, gak ada teman, apa kamu gak ngrasa capek dengan kesendirianmu?” , aku sempat terdiam mendengar itu, memang di kelas tak ada yang berteman denganku. Mereka bilang aku cupu lah, gak gaul lah, gak keren lah, aku tau aku kadang merasa tak pantas ada di kelas yang anak-anaknya eksis banget. “Gak ada teman? kamu ini bicara apa sih ri? Bukankah satu kelas itu teman semua ya?” , jawabku dan aku tak tahu apa alasan Mentari menanyakan itu. Dia memang aneh, dan kadang tidak terduga. “Kalian ngobrolin apa sih? gak ngajak-ngajak nih” , kata Stela setelah membeli es the di dekat halte. “Aku hanya bertanya ke Sasi. Sas, semoga kamu sabar besok.” , ujar Mentari sambil tiba-tiba pergi. Mentari memang orang aneh sedunia, tapi dia baik. Banyak kakak kelas suka dengannya, tapi gak tau tuh kelanjutannya. Mungkin karena keanehannya itulah. Tapi aku juga gak tau sih sebenarnya. Siang itu panas teriknya menusuk perasaan kebingunganku dengan Mentari. Di bus ini aku melamun, seakan mengabaikan curhatan Stela tentang kakak kelas yang dia idam-idamkan sejak dulu. “Kamu kenapa sih sas? Ada masalah?” , tanya Stela sambil menepuk bahuku yang rasanya berat dengan rasa penasaranku kepada Mentari. “Nggak kok la, biasa lagi ngeblank” , jawabku sambil tersenyum walau aku masih memikirkan apa yang sebenarnya besok terjadi, kata-kata Mentari membuat rasa penasaranku masih hinggap di pikiran. Aku tahu, Stela pasti masih bertanya-tanya, walau aku sering tak menceritakan masalahku pada siapa-siapa. Aku berpikir bahwa masalahku adalah masalahku, karena itu aku tak pernah bercerita kepada orang lain. Terkadang aku hanya memilih bercerita pada diaryku yang selalu aku bawa kemana-mana. “Pak pak, kiri pak.” , teriak Stela tiba-tiba, aku yang masih melamun tak sadar kalau kami sudah sampai di halte pemberhentian. Memang kata-kata dari Mentari masih terngiang di telinga ini. Sesampainya di rumah, seperti biasa sepi. Aku hanya tinggal dengan kakakku yang masih kuliah. Walau sebenarnya kakak juga punya usaha sampingan. Orang tua kami pergi ke Hongkong, mereka menjadi TKI disana, untungnya orang tuaku memiliki majikan yang baik, setiap 4 bulan sekali ditambah saat hari raya mereka pulang. Sudah 2 bulan ini mereka tak ada kabar. Mungkin mereka sibuk dengan pekerjaan mereka . Walau aku sudah sampai rumah, aku masih memikirkan ucapan Mentari itu. Aku tak tahu, sudah 3 bulan ini teman-teman mengucilkanku. Dulu, aku , Gina, Mentari, dan Rian teman akrab. Tapi sekarang Gina mulai menjauhiku. Tak cuma Gina, teman-temanku mengucilkanku. Memang terasa curiga, dan hati ini masih teguh dalam tanda tanya. “Kenapa?” pikirku dalam hati. “Dok dok dok dok” , tiba-tiba terdengar ketukan pintu, “Heii keluar kamu!” , teriak seseorang, dari suaranya seperti suara laki-laki. “Iya, ini aku bukakan.” , tapi setelah aku buka, tidak ada orang, hanya ada sebuah kotak misterius yang ada di depan rumahku. Aku bertanya-tanya apa isinya, setelah aku buka, “Aaaaaaaaa” , ternyata isinya kepala tikus, aku tak tahu apa maksud semua ini. Akhirnya aku buang dan berusaha langsung melupakan hal yang baru saja terjadi. Pagi ini terasa berbeda, aku berangkat ke sekolah sendiri tanpa Stela. Entah Stela kemana, saat aku menghampiri ke rumahnya, ibunya bilang kalau Stela sudah berangkat. Aneh, padahal yang aku tahu Stela selalu takut kalau berangkat sendiri. Bahkan ke toko yang jaraknya hanya 10 meter dari rumahnya pun dia minta ditemani. Memang Stela itu anak yang penakut, tapi dia baik. Tapi beberapa menit kemudian, “Hai, tumben sendiri, gak punya temen ya? Kasian.” , kata seseorang dari belakang, awalnya aku kira itu Rian, orang paling menyebalkan di dunia menurut versiku, tapi ternyata itu Fafa, teman sekelasnya Stela. “Kenapa fa? Kok kayaknya senang?” “Nggak, biasa aja, ngomong-ngomong gue duluan ya, gue kan pakai motor, loe nge bis, gue ma loe beda kasta coyy, sorry ye, nih rasain,” kata Fafa sambil menyemprotkan kubangan air kotor ke bajuku. Sialnya aku hari ini, padahal Fafa biasanya baik, tapi entah kenapa hari ini semuanya seperti tak berpihak kepadaku. Kakakku sendiri hari ini juga hanya diam dan tidak banyak berkata. Mungkin benar, hari ini memang sial. Dengan wajah keheranan aku menunggu bis dihalte biasa, setelah aku menunggu lama akhirnya bis yang aku tunggu datang, disepanjang perjalanan menuju sekolah aku selalu memikirkan hal-hal aneh yang akhir ini aku alami. Tak lama kemudian aku sampai sekolah dengan firasat buruk, setelah sesampainya disekolah aku membersihkan pakaianku yang kotor di toilet . “kkkkkkrrrrrriiiinnnnngggg!!!!” Bel masuk sekolah pun berbunyi dengan langkah terburu-buru aku bertemu stela . “Pagi la”, sapa ku sembari tersenyum . Stela pun hanya membalas dengan senyuman dan tidak ada sepatah kata yang dia ucapkan. “Sebenarnya ada apa dan kenapa semua menjadi berbeda apakah ada yang salah dengan diriku ?”ucapku dalam hati . Di sepanjang jalan menuju kelas tak ada seorang pun yang menyapa diriku termasuk sahabatku. Mereka semua menjadi berbeda, manjauhiku , menjahiliku dan menertawakanku . Sesampainya di kelas , perasaanku tak seperti biasa seperti ada sesuatu yang aneh dengan mentari, yang tiba-tiba duduk di bangku sampingku dan berkata “masih betah duduk sendiri?” kata mentari dengan nada keheranan lalu pergi meninggalkan ku. Dengan keheranana aku menjawab, “apa maksud kamu?” jawabku heran, “kenapa dengan mentari ?” tanyaku dalam hati . Setelah lama waktu bergulir akhirnya bel pulang sekolah terdengar , ya hari ini tak seperti biasa aku pulang sendiri tak ada sahabat yang biasa menemani ku . Aku pun pulang berjalan sendiri menuju halte tiba-tiba, “byuuurrr”, cipratan air yang mngenaiku. “Rasain loe, emang enak? hahahahaha”,kata pengendara sepeda motor yang aku lihat ternyata sahabat-sahabatku sendiri . Sesampainya di halte seperti biasa aku menunggu bis , setelah lama aku menunggu akhirnya bis pun sampai di halte biasa aku menunggu . Telah lama menunggu, bus pun datang. Terasa sepi dalam perjalanan ini. Tak ada teman yang ku ajak ngobrol seperti biasanya. Turun dari bus, aku masih memikirkan, “ada apa denganku?” , entah lah, aku pun bingung dengan itu. Sampailah di rumah “assalamualaikum kak”, kata ku sesampainya di depan rumah . Tetapi tak ada yang menjawab “kok sepi, kakak kemana ya”, tanyaku dalam hati . “biarlah mungkin kakak ke kampus, tapikan ini hari sabtu, tak seperti biasa pergi tak member kabar dulu jadi sendirikan aku,huh” kata sebal. akhirnya aku pun memutuskan untuk istirahat sebentar untuk menenangkan diriku sendiri yang dari tadi aku dicuek in sama sahabat-sahabat ku sendiri. “ting….!”,bunyi ringtone hpku . aku pun terbangundari tidur siang ku ini. aku buka pesan singkat ini dan kubaca “dek kakak pulangnya terlambat mungkin jam 6an udah sampai rumah”, ternyata pesan singkat dari kakakku . akhirnya aku terus kan tidur siangku ini . ________________________________________ “ya ampun sudah jam berapa ini?”, sambil mencari-cari jam weker . “hhaaaahhh jam 6, ya ampuun”, ternyata sudah jam 6 aku terlalu pulas tidurnya tapi kenapa kakakku belum pulang juga apa terkena macet , ah sudahlah mungkin masih ada urusan . aku pun akhirnya mandi, karna hari sudah mulai gelap. setelah mandi aku pun menuju meja belajarku, dan memulai membaca-baca buku yang akan aku pelajari besuk pagi. waktu pun mulai berlalu jam menunjukan pukul 20.00 tak terasa aku sudah duduk 2 jam di tempat belajarku ini ,” “kakak kemanya kok belum pulang juga, padahal dia kata pulang jam 6”, kataku dengan nada khawatir. “Aaaaaaa”, tiba-tiba mati listrik. akhirnya aku mencari-cari lilin disebuah kotak kecil.Tak lama kemudian, “dokk..dokk..dok..”, seperti ada suara mengetuk pintu. dengan rasa takut ini aku memberanikan diri untuk membuka pintu. “loh kok nggak ada orang?”,ternyata tak ada seorang pun di depan rumah. “dokk…dokk…dokk…”, suara ketukan pintu lagi. “ya ampun siapa siih malam-malam kok ketuk pintu”,kata ku dengan nada kesal. ternyata setelah aku membukakan pintu tak ada lagi seseorang didepan rumah. “heeii siapa sih??”, akhirnya aku putuskan untuk keluar rumah. “surpreiss!!!”,tiba-tiba segerombolan teman sekolahku. “happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you!!”, kata sahabat sahabatku ada mentari,stela,fafa,dan yang nggak aku sangka ada rian orang menyebalkan sedunia menurutku sih, ternyata memberiku kejutan yang nggak pernah aku sangka . “maaf ya Sas aku udah cuek sama kamu udah jail sama kamu dan mungkin udah buat kamu marah,jengkel,sebel.Ini semua ide stela kok”, kata mentari dan fafa “hahaha maaf Sas”, kata stela “iya gak papa, makasih semua kalian istimewa”, kata ku sembari meneteskan air mata bahagia. “hehe happy birthday ya Sas”,kata kakakku yang bekerja sama dengan teman-teman untuk menjahiliku. “makasih kak”, dengan nada agak kesal. Ternyata teman yang selama ini menjauhi ku , memberi kejutan yang tak pernah kuduga dan ternyata mereka mengingat hari ulang tahun ku yang aku sendiri pun lupa ini hari ulang tahunku makasih kawan kalian luar biasa.
Read More